Walk In Silence

In the silences I found you, beneath the highlight.

Come to see you just to know you, day by day.

Jam tanganku menunjukkan pukul 20.10.  Tidak biasanya dia selama ini ─ sepuluh menit ─ di dalam sana.  Kucoba menengok ke dalam.  Ternyata dia masih berbicara dengan temannya.  Tanpa kusadari, seseorang telah berada di belakangku.

“Cari siapa, Mbak?”

Aku kaget dan buru-buru menjawab.

“Eh, nggak cari siapa-siapa kok.  Cuma…  Cuma mau liat-liat.” kataku gelagapan.

“Oh…  kenapa nggak masuk ke dalam aja?”

“Eh, nggak usah…”

Tiba-tiba kulihat dia ─ orang yang kuperhatikan dari tadi ─ menuju pintu keluar.  Sontak aku langsung membalikkan badan dan mengambil langkah seribu, menjauh dari situ.  Orang yang bertanya padaku tadi kebingungan.  Ah, biarkan saja.  Yang penting aku tidak terlihat oleh dia dulu. Continue reading

I’ll Be Yours

“Love is breathin’ slowly into my vein.”

Sudah tiga bulan lamanya aku kenal dengannya.  Dia, seorang lelaki periang dan spontan yang tidak sengaja kukenal saat di toko buku.  Waktu itu dia tiba-tiba menyapaku yang asik bongkar-bongkar komik Jepang kesukaanku.

“Hai, suka baca School Rumble ya?” pertanyaan spontan itu membuatku salah tingkah.

“Eh…  I, iya.  Kamu juga?”

“Iya.  Ini tu manga paling gokil yang pernah aku baca.  Oh iya, namaku Will.  Kamu?”

“Aku Veny.”

Aneh memang, tapi dari situlah aku mengenal sosok Will yang menurutku unik.  Dan hari-hari setelahnya kami selalu bertemu di saat yang tak terduga.  Dua minggu kemudian aku baru tahu kalau dia tinggal hanya dua blok dari rumahku.

Aku memang sedikit naif mengakuinya, tetapi Will menumbuhkan perasaan itu padaku.  Ya, perasaan terkutuk yang berhasil kulupakan kurang lebih setahun dari hidupku.  Aku tidak ingin perasaan itu mengusikku lagi, setelah seorang lelaki brengsek ─yang kupikir dia adalah takdirku─ membuatku terbang terlalu tinggi dengan perasaan itu, kemudian ─tanpa beban─ menjatuhkanku ke tanah yang begitu keras.  Setahun yang lalu.

¤¤¤ Continue reading

Seringan Awan

iPod kesayanganku terus memutarkan lagu itu berkali-kali.  Ya, jika sedang suka-sukanya sama satu lagu, pasti kuputar lagu itu berkali-kali sampai puas mendengarkannya.  Lagu dari band indie asal Bandung, Homogenic, terus berputar di otak ku.  Bukan cuma karena suara yang ‘wah’ dari vokalisnya (vokalisnya yang baru.  Vokalisnya yang lama juga punya karakter suara yang unik) dan lagunya yang keren, tapi juga karena keadaanku benar-benar cocok dengan lagu itu.

Ya, tiap kali melihatnya, ataupun berada didekatnya, hatiku terasa ringan, seperti awan.  Pantaslah lagu Seringan Awan dari Homogenic ‘menyihirku’.  Menurutku itu bodoh.  Maksudku, bagaimana bisa cuma gara-gara seseorang, kita merasa begitu ringan, tenang.  Mungkin aku terlalu naif bila berkata begitu.  Buktinya diriku sendiri sedang mengalaminya.  Itu yang dinamakan kasih sayang, atau cinta?  Sudahlah, aku tidak mengerti tentang cinta, atau dengan kebahagiaan yang ditimbulkannya, atau dengan kepedihan yang mengikutinya. Continue reading