I’ll Be Yours

“Love is breathin’ slowly into my vein.”

Sudah tiga bulan lamanya aku kenal dengannya.  Dia, seorang lelaki periang dan spontan yang tidak sengaja kukenal saat di toko buku.  Waktu itu dia tiba-tiba menyapaku yang asik bongkar-bongkar komik Jepang kesukaanku.

“Hai, suka baca School Rumble ya?” pertanyaan spontan itu membuatku salah tingkah.

“Eh…  I, iya.  Kamu juga?”

“Iya.  Ini tu manga paling gokil yang pernah aku baca.  Oh iya, namaku Will.  Kamu?”

“Aku Veny.”

Aneh memang, tapi dari situlah aku mengenal sosok Will yang menurutku unik.  Dan hari-hari setelahnya kami selalu bertemu di saat yang tak terduga.  Dua minggu kemudian aku baru tahu kalau dia tinggal hanya dua blok dari rumahku.

Aku memang sedikit naif mengakuinya, tetapi Will menumbuhkan perasaan itu padaku.  Ya, perasaan terkutuk yang berhasil kulupakan kurang lebih setahun dari hidupku.  Aku tidak ingin perasaan itu mengusikku lagi, setelah seorang lelaki brengsek ─yang kupikir dia adalah takdirku─ membuatku terbang terlalu tinggi dengan perasaan itu, kemudian ─tanpa beban─ menjatuhkanku ke tanah yang begitu keras.  Setahun yang lalu.

¤¤¤

“Turning up side down haunting my brain.”

Aaaaaarrghh!!!  Tidak!  Jangan sampai aku memikirkan perasaan itu lagi!  Aku bersumpah tidak akan jatuh cinta lagi setelah pengalaman pahitku dengan lelaki.  Biar saja aku menjadi perawan tua.  Tapi, sepertinya hal itu sulit sekali semenjak kehadiran Will dalam hidupku.  Oh, apakah aku harus mengakuinya?  Mengakui bahwa aku ─sekali lagi─ terkurung dalam perasaan yang sama?  Ya, perasaan itu…

Sepertinya aku tidak akan bisa berhenti memikirkannya sekarang.

¤¤¤

“Whenever you’re at my side.”

Baiklah, mungkin kali ini aku harus mengakuinya.  Bagaimanapun, aku tidak mungkin bisa menutup perasaanku selamanya dari lelaki bukan?  Karna Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan.  Lupakan tentang perawan tua.  Ya, memang pikiran kaum Hawa sepertiku sulit dimengerti.  Terkadang aku sendiri tidak mengerti dengan jalan pikiranku.

Ah, sudahlah.  Aku malas melanjutkan pikiranku yang melankoli.  Aku benci kalau dikatakan melankoli.  Dan sekarang aku baru sadar kalau sudah lebih dari dua jam aku duduk termenung di tempat ini.  Di bangku taman sekitar perumahan tempatku tinggal.  Dengan tatapan kosong kulihat sekelilingku.  Tidak ada orang.  Sedetik kemudian muncul seseorang dari belokan.  Aku iseng mencermatinya.  Tunggu, itu kan…

“Hei, Ven!” orang itu berlari ke arahku.

“Wah, kebetulan banget ketemu di sini.  Tadi aku mau mampir ke rumahmu.” Orang itu langsung duduk di sebelahku.

“Eh, Will.  Kamu toh, tadi kirain siapa.  Abis ngapain?  Kok keringetan?”

“Abis lari sore dong.  Kan biar sehat.” dia cengir-cengir ke arahku.

“Eh, beliin aku minum dong.  Haus banget nih tadi lari 10 km.”

“Halah, lebay amat 10 km.” aku langsung memukul kepala Will.

“Eh, iya seriusan!  Seriusan lebaynya.”

“Gariiiiiiinnngggg!!!” aku langsung teriak di kupingnya.

“Hahaha… Eh, tapi beneran dong beliin aku minum.” dia memelas.

“Ambil aja di rumahku.  Minta sama adikku, dia ada di rumah.”

“Yah…  Kamu dong yang ambilin.  Aku masih capek.”

“Gimana sih.  Kan biar sehat, kamu jalan ke rumahku.” aku sedikit menyindirnya.

Dia mengeluarkan tampang cemberut.  Hah?  Apa-apaan?  Kok melihat tampangnya begitu hatiku mulai tak karuan.  Aku baru sadar kalau ternyata Will mempunyai wajah yang manis.  Sudah tiga bulan mengenalnya, aku baru sadar hal itu.  Dasar payah!

“Ting… ting… ting… ting…” tiba-tiba pedagang es kelapa muda keliling lewat di depan kami.

“Wah, kebetulan banget!  Pak, es kelapa mudanya pak!” Will spontan berlari ke arah pedagang itu.  Will sialan.  Dia berteriak tepat di telingaku.  Aku hanya geleng-geleng melihat kelakuannya.  Mengingat tampangnya tadi, aku mulai lagi memikirkan tentang perasaan itu.  Seketika saja jantungku berdegup lebih kencang.

Will sudah berada di depanku, memegang dua plastik transparan berisi es kelapa.  Aku sedikit kaget.  Kulihat dia tersenyum.

“Nih…  Seger loh.” katanya sambil menyodorkan es kelapa kepadaku.

“Eh…  Oh, iya.  Makasi ya.” tiba-tiba aku salting.

“Bukannya kamu yang beliin aku minum, malah aku yang beliin kamu es kelapa.” Katanya sambil mencibir ke arahku.

“Hehehe…  Maaf…  Lagian kamu udah aku tawarin air minum di rumah.”

“Iya deh, gak papa.” dia kembali duduk di sebelahku.  Kali ini jantungku berdegup sangat kencang.  Ada apa ini?  Kenapa aku jadi tak karuan begini?

Sial.  Kenapa saat dia ada di sampingku, perasaan itu selalu datang?

¤¤¤

“If you could heal my heart then I’ll be yours.  Forever I’ll be yours.”

Kali ini aku tidak bisa mengelak lagi.  Dia benar-benar memaksa perasaan itu keluar dari dalam diriku.  Inikah saatnya?  Setelah satu tahun lamanya perasaan ini kuenyahkan dalam kehidupanku.  Inikah saatnya?  Kulihat lagi dia.  Keringat tidak lagi menetes dari wajahnya.  Diseruputnya es kelapa dalam genggamannya.  Langit yang jingga menjadi latar belakangnya.

Oh, Tuhan.  Mungkinkah dia orang yang Kau kirimkan untuk menyembuhkan luka hatiku?  Diakah yang akan membuatku seperti sedia kala?  Seperti disaat aku masih utuh dulu.  Disaat hatiku belum hancur karena tertipu oleh takdir yang salah.

Tanpa sadar, kusandarkan kepalaku di pundaknya.  Dia sedikit kaget.  Namun kemudian dia tersenyum, dan kembali menatap langit yang kini menjadi merah.  Biarlah, jika memang dia yang bisa memperbaiki hati dan jiwaku yang rusak, maka aku akan ikhlas.

Jika dia yang bisa menyembuhkannya…

¤¤¤

Homogenic – I’ll Be yours

Love is breathin’ slowly into my vein

Turning up side down haunting my brain

Whenever you’re at my side

Whenever you’re at my side

If you could heal my heart then I’ll be yours

If you could heal my heart then I’ll be yours

Forever I’ll be yours

Forever I’ll be yours

————————————————————————————————–

Cerpen ini juga dapat dibaca di ngomik.com

4 thoughts on “I’ll Be Yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s