Kau dan Aku

Lagi-lagi perasaan aneh itu menyerangku.  Sudah kucoba untuk  menepisnya, berkali-kali kulakukan, berkali-kali pula aku gagal.  Tidak!!  Aku tidak boleh menyerah kepada perasaan itu!  Tidak!!  Lalu, bagaimana caraku untuk melenyapkan nya?  Entahlah, aku juga tidak tahu.

 

Sudah 4 hari setelah pertemuanku dengannya.  Dengan seseorang yang selama ini menjadi bagian hidupku.  Namun tiba-tiba saja ia menghilang dalam waktu yang lama, dan dengan tiba-tiba pula ia kembali.  Dan yang membuatku tak mengerti adalah, perasaan aneh yang pasti menyergapku bila berhadapan dengannya. Dan juga bila aku memikirkan dia.

 

Aku sangat tersiksa dengan semua ini.  Dengan perasaanku yang diriku sendiri pun tak tahu perasaan macam apa itu.  Ah, sudahlah!  Aku tidak ingin memikirkan hal itu lagi.  Tapi, aku harus bisa melenyapkan perasaan itu!  Kenapa?  Karena dia, orang yang membuatku merasakannya, memintaku untuk bertemu sore ini di tempat yang selalu kami datangi dulu.  Ya, dia memintaku bertemu sore ini jam lima, di tempat kenangan kami dulu.

 

Tunggu, tunggu!  Jam lima?  Oh, tidak!  Sekarang sudah jam lima kurang!  Aku harus cepat ke tempat itu!

 

***

 

Gawat!  Aku sampai jam lima lebih lima belas menit!  Kira-kira dia marah tidak ya?  Huh?  Tunggu!  Dimana dia?  Apa dia belum sampai?  Aneh, seingatku dia tidak pernah terlambat.  Seingatku.  Tapi, dimana dia?  Dengan sedikit risau ku tunggu dia.  Sambil menunggu, kulihat sekeliling ku, kulihat tempatku sering bertemu dengannya dulu.

 

Ah, tempat ini tidak banyak berubah.  Masih seperti yang dulu.  Kecuali…  Kecuali pohon rindang tempatku dengannya sering beristirahat dulu.  Ya.  Pohon itu sudah hilang.  Sudah ditebang, entah siapa yang melakukannya.  Sayang sekali, padahal setiap aku mempunyai masalah, pasti pohon rindang itu yang menghiburku.  Yah, maksudku bukan benar-benar pohon itu, tapi dia.  Dia selalu tahu aku ada di tempat ini, jadi dia selalu menemaniku saat aku sedih.  Dia mengajakku untuk berteduh di bawah pohon rindang itu.  Ah, benar-benar kenangan masa lalu yang indah.

 

“Sayang sekali, pohon itu sudah ditebang.”

 

Aku terkejut ketika menyadari dia sudah ada di belakangku.

 

“Padahal itu tempat paling menyenangkan.  Di bawah pohon itu.” dia berkata dengan senyum yang tipis di bibirnya.  Aku hanya bisa terdiam, dengan mulut yang sedikit terbuka.  Mungkin rupaku seperti orang bodoh.

 

Oh, tidak!  Perasaan itu datang lagi!  Aku harus menepis perasaan itu!  Pergilah!  Jangan datang lagi padaku!

 

“Ada apa?  Kau sakit?” tanyanya.

 

“Oh, tid… Tidak, tidak.  Aku tidak apa-apa.”

 

Apa yang kupikirkan?  Aku harus melakukan sesuatu, atau membicarakan sesuatu, agar perasaan itu hilang.  Saat aku ingin bertanya padanya kenapa dia bisa terlambat, dia sudah mengatakannya duluan.

 

“Maaf ya aku terlambat.  Tadi ada yang harus kulakukan.”

 

“Tidak apa-apa. Aku juga baru sampai.”

 

Kami terdiam beberapa saat.  Kenapa?  Kenapa kau diam saja?  Apa sebenarnya maksudmu mengajakku bertemu di sini?  Ya, apa maksudmu?  Seperti membaca pikiranku, dia berkata,

 

“Sebenarnya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.  Tapi sebelum itu, aku ingin kau menerima ini…” dia memberiku sesuatu berwarna kuning.

 

“Ini…” aku hanya bisa tersenyum melihat apa yang dia berikan.  Sebungkus permen Cha-Cha kesukaanku.  Dengan sedikit tertawa kuterima pemberiannya.

 

“Kau masih ingat kalau aku suka Cha-Cha?” tanyaku dengan sedikit tertawa.

 

“Yang peanut.  Tentu saja!” katanya dengan tersenyum.  Yah, aku hanya bisa tertawa mendengarnya.  Ku ucapkan terima kasih, dia tersenyum.

 

“Bagaimana denganmu?  Apa kau masih ingat apa yang kusuka?” tanyanya tiba-tiba menghentikan tawaku.  Dahiku berkerut.  Yang dia suka?  Tentu saja aku masih ingat.  Yang dia suka itu…  Aku.  Ya, dia pernah bilang kalau dia menyukaiku, menyukai senyumanku.  Huh?  Tidak, tidak!  Yang dia maksud pasti makanan atau jajan kesukaannya, bukan diriku!  Benar kan?

 

“Aku masih menyukaimu, kok.” ucapnya dengan tersenyum.  Sepertinya dia benar-benar bisa membaca pikiranku.  Kontan saja wajahku me-merah.  Sial!  Aku malu dengannya!  Dia tertawa melihatku.

 

“Haha. Kenapa wajahmu?  Aku menyukaimu sebagai teman, sebagai sahabat.  Bukan kah sudah pernah kukatakan?” jelasnya dengan tertawa.  Ya, dia memang pernah mengatakannya.  Betapa bodohnya aku, kenapa wajahku me-merah?  Berlahan merah di wajahku menghilang, digantikan dengan murung.

 

Perasaan itu, perasaan itu datang lagi.  Tetapi kali ini ada sesuatu yang lain.  Kukira itu adalah kecewa.  Ya, aku kecewa.  Kenapa?  Kenapa aku kecewa?  Apa karena dia menyukaiku sebagai seorang sahabat?  Apa yang kupikirkan?  Tentu saja dia menyukaiku sebagai sahabat, karena aku ini memang sahabatnya.

 

Tidak!  Aku dan dia sudah berjanji, berjanji untuk menjadi sahabat sejati.  Tapi, kenapa aku tidak ingin menerimanya?  Kenapa aku ingin lebih, lebih dari sekedar sahabat untuknya?  Mungkin ini adalah perasaan yang selalu menyergapku bila berhadapan dengannya. Cinta.

 

“Aku minta maaf.  Aku telah pergi meninggalkanmu, meninggalkan sahabatku.” tiba-tiba dia membuyarkan lamunanku.

 

“Tapi, aku sudah kembali.  Aku sudah di sini, berdiri di depanmu, untuk mengatakan bahwa…”

 

Bahwa?  Bahwa apa?  Cepat katakan!  Aku ingin kau cepat mengatakannya!

 

“Bahwa kita, kau dan aku, akan selalu bersama.  Bahwa kita, kau dan aku, akan selalu berdua.  Bahwa kita, kau dan aku, tidak akan pernah berpisah lagi.  Karena aku, aku menyayangimu…”

 

Ya.  Karena kita, kau dan aku, diciptakan untuk saling melengkapi.

 

¤ ¤ ¤

 

The Cranberries – You and Me

I’m not going out tonight

‘cause I don’t want to go

I am staying at home tonight

‘cause I don’t want to know

You revealed the world to me

And I would never be

Dwelling in such happiness

Your gift of purity

Eh-e-oh, eh-e-oh, eh-e-oh, eh-e-oh (2x)

You and me it will always be

You and me forever be

Eternally it will always be

You and me

Taylor, Taylor, Taylor, Taylor

I don’t pay attention to the ones

who never cared

Find your own direction

‘cause there’s sweetness in the air

You will be the world to me

And I will always be

Dwelling in this happiness

Your gift of purity

Eh-e-oh, eh-e-oh, eh-e-oh, eh-e-oh (2x)

You and me it will always be

You and me forever be

Eternally it will always be

You and me

Always be

You and me forever be

Eternally it will always be

You and me forever be

Eternally

Taylor, Taylor, Taylor, Taylor (2x)

23 thoughts on “Kau dan Aku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s