Potret Kota Kecil Bag. 2

“Ver, Ver… Kayaknya kamu salah…” belum selesai aku bicara, Vera sudah memotongnya.
“Ayo cepetan, Din. Kita udah telat, nih!” katanya sambil tergesa-gesa.

Maka saat kami sampai didepan kelas, semua orang menertawakan kami, khususnya Vera. Setelah tahu bahwa dia salah kostum, muka Vera langsung berubah menjadi merah dan dia langsung berlari ke ruang kepala sekolah untuk meminjam telepon agar dia bisa menelpon pembantunya supaya mengantarkan seragam pramuka ke sekolah. Aku yang masih berdiri didepan kelas hanya bisa cengengesan.

“Sorry, sorry…” ujarku.

Aku meminta kepada pengawas agar aku diberi izin menyusul Vera yang ke ruang kepala sekolah. Tetapi aku tidak diperbolehkan dan langsung disuruh duduk ke bangkuku untuk menerima soal ujian. maka akupun duduk dan tidak lama kemudian Vera kembali ke kelas masih dengan menggunakan seragam putih-putih. Semua orang menertawakan dia lagi. Kali ini pengawas kami sudah tidak tahan untuk menggodanya.

“Vera, seragam pramuka kamu lagi dicuci apa memang kamu ingin jadi petugas upacara di Kantor Walikota?” tanya pengawas kami membuat tawa orang-orang bertambah keras.

Vera cuma bisa senyum-senyum pasrah. Dia menuju bangkunya, dan aku yang sempat melihatnya mengarahkan pandangan tajam. Apa kubilang! Begitu kira-kira yang kukatakan kepadanya. Dia dengan muka merah yang menahan malu, membalas melihat kearahku. Kenapa nggak bilang dari tadi?! Kata muka Vera. Hingga sekarang, kalau kami berdua mengingat kejadian itu, kami tak akan bisa menahan tawa kami atas ketololan Vera dulu sehingga kami ditertawakan.

“Tumben kamu datengnya telatan dari pada aku…” katanya. Sambil mengeluarkan buku untuk pelajaran pertama, aku menjawab dengan santai. “Aku tadi naik angkot, makanya lama…”

Vera membelalakkan matanya. Rupanya aneh sekali. Dia menatapku, tak percaya. “Serius?? Masa, sih??” tanyanya.
Aku balas menatapnya, kali ini dengan wajah yang serius. “Beneran… Mangnya kenapa, sih? Muka loe aneh kayak gitu…”
Dia langsung merubah ekspresi wajahnya. “Nggak apa. Aku cuma nggak percaya aja, masa anak setajir loe ke sekolah naek angkot…” katanya sambil senyum-senyum.
“Tapi, aku bangga sama loe…” lanjutnya lagi.
“Tetep kayak gitu…!” katanya sambil mengacungkan jempolnya.
“Kalo nggak ada bau ikan asin sama cumi sih, aku mau-mau aja.” jawabku jujur. Vera tertawa mendengarnya.

Vera juga telah menjadi tempat diskusi yang baik untukku. Dia selalu meladeni setiap pemikiran yang keluar dari otakku tentang kota kami yang semakin lama semakin bobrok ini. Dan dia setuju.

“Kayaknya kita mesti lakuin suatu perubahan yang besar, deh…” katanya pada suatu hari.

Aku yang bingung melihatnya berkata seperti itu.

“Perubahan? Perubahan apaan? Maksudku mana ada orang yang mau ngikutin jejak 2 orang anak SMP ingusan yang peduli dengan nasib orang-orang miskin?” kataku tanpa pikir panjang.

Vera memandang tajam kearahku.

“Aduh! Kamu ini ya?! Khan kamu yang pertama ngajak aku buat ngeliat penderitaan orang-orang miskin itu dan ngajak aku untuk ngeringanin penderitaan mereka. Koq sekarang kamu mikirnya pesimis gitu, sih?! Kita khan belum mulai ngerjain sesuatu!” Vera sudah tidak bisa menahan kekesalannya. Aku memandanginya dalam-dalam. Kulihat sesuatu di kedua matanya, sesuatu yang tidak bisa disembunyikan, yaitu cinta dan kasih sayang terhadap yang membutuhkan. Maka dengan semangat yang tinggi, kami berdua menyusun rencana penggalangan dana untuk orang-orang yang membutuhkan, kaum fakir miskin dan duafa yang banyak terdapat dikota kami. Nanti rencana ini akan kami ajukan ke ketua dan pengurus OSIS di SMP kami.

Dan setelah melalui proses yang panjang, acara penggalangan danapun berlangsung. Karena siswa-siswi di SMP kami rata-rata adalah anak orang kaya, jadi dana yang terkumpul lumayan banyak. Dan karena acara ini didukung oleh kepala sekolah kami, maka dipastikan acara ini akan sukses besar. Hasil penggalangan dana itupun diserahkan kepada orang-orang yang tidak mampu yang terdapat pada 3 daerah besar di kota kami, salah satunya di sepanjang aliran sungai yang aku ceritakan tadi.

Serasa tidak percaya apa yang telah aku dan Vera lakukan, ku tatap lagi wajah Vera yang sekarang sedang tersenyum ceria laksana bunga mawar yang merekah dipagi hari, kuat, mempesona, dan berpendirian keras. Kupegang tangannya dan kupeluk dia erat-erat. Oh sahabat terbaikku! Ditengah kebahagiaan itu, seorang temanku menghampiri kami dan berkata:”Eh, tau nggak? Katanya kalian bakal diliput berita karna udah gerakin banyak orang buat nyumbang!”

Vera yang mendengar itu hanya tersenyum jenaka. Dan aku dengan menaikkan alis sebelah mengeluarkan nafas panjang. “Yaaahhh…”

“Kalo gitu, kita mesti pasang tampang sok imut, nih!”

Dan kamipun tertawa keras, keras sekali.

#Tamat#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s