Potret Kota Kecil

Awan yang kelabu turun diatas kota. Pagi hari yang murung di kota ku. Sebuah kota dengan sejuta kemewahan, tetapi juga dengan sejuta kemelaratan. Rasanya aku malas bangun pagi ini hanya untuk mendengar ibuku yang berceloteh dengan bangga tentang baju dan parfume barunya. Maka sudah kuputuskan, pagi ini aku akan langsung pergi ke sekolah tanpa sarapan dan naik angkutan umum. Akan sangat lama jika aku menunggu kedua orang tuaku yang masih tenggelam dalam kemewahan dunia yang semu.

Sebelum berangkat, aku melakukan kebiasaanku, yaitu mencium tangan kedua orang tuaku, kebiasaan yang sudah menjadi upacara wajib bagiku. Rasanya aneh jika sebelum berangkat ke sekolah aku tidak melakukan itu, rasanya semua pelajaran yang akan diberikan guruku nanti tidak ada artinya. Setelah mencium tangan kedua orang tuaku dan sedikit berdebat dengan ayahku yang menyuruhku agar diantar oleh supir saja -tetapi ku tolak- aku melangkah meninggalkan rumahku yang besar dan sarat akan kemewahan.

Aku berjalan sepanjang jalanan beraspal, di tengah lautan rumah-rumah besar megah khas perumahan kaum elit. Sesekali kulihat orang-orang kaya pemilik rumah-rumah itu -bersih, necis, berpendidikan, dan angkuh- dengan enaknya bersantai di teras rumah dengan secangkir teh hangat dan koran pagi, diiringi musik klasik nan merdu. Sedangkan para pembantu mereka bersusah payah membersihkan rumah yang luasnya minta ampun, yang diiringi oleh nada-nada perintah sang majikan, bahkan tidak jarang mereka mendapatkan perlakuan yang kasar dari majikan.

Atau kudengar suara kicauan burung yang bertengger di dahan pohon mangga yang disulap menjadi demikian cantik oleh tukang kebun sang empunya rumah. Selebihnya bertengger di kawat tiang listrik sepanjang jalan yang meneteskan butir-butir air hujan. Tampaknya kota kecilku ini habis diguyur hujan semalam. Setelah agak lama meniti jalan panjang beraspal itu, aku tiba di sebuah perempatan. Perempatan itu menandakan aku sudah keluar dari kalangan perumahan elit tersebut. Maka pemandangan di sekitar perempatan itu amatlah kontras.

Warung nasi kumuh yang baru buka, pangkalan ojek yang menjorok ke jalan, sehingga keberadaanya sedikit mengganggu lalu lintas. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang berjarak kurang lebih 15 meter dari perempatan, dengan asap yang mengepul-ngepul karena baru saja sampah-sampah pembuangan itu dibakar. Dan tepat dibawah TPA itu, mengalir aliran sebuah sungai yang agak besar. Sampah terlihat disana-sini, karena tanpa kesadaran yang jelas, orang-orang membuang sampah-sampah mereka kesitu, bukan ke TPA. Maka dengan ditambah dengan anak-anak kecil dan orang-orang tua yang buang hajat disungai itu -tentu karena mereka tidak mempunyai kamar kecil- keadaan sungai itu amatlah memprihatinkan. Sedangkan di sisi lain sungai, terlihat sayuran kangkung yang amatlah banyak. Sayuran yang satu ini berfungsi sebagai penyaring atau biofilter yang menyaring berbagai macam logam berat yang terbawa oleh aliran sungai tersebut. Hasil saringan itu disimpan di pucuk sayuran itu, sehingga jika kita hendak membuat sayuran itu menjadi lauk pauk, terlebih dahulu kita harus membuang pucuknya agar logam berat yang menjadi hasil penyaringan tadi tidak ikut masuk ke dalam tubuh kita. Dan pada sebagian kasus, kangkung menjadi sumber penyakit hati bagi sebagian orang.

Dengan pemandangan seperti itu, aku biasanya merenung dan berfikir sejenak. Begitu banyak orang-orang tidak mampu diluar sana, sedangkan orang-orang kaya tidak mempedulikan mereka, bahkan sekedar membayangkan penderitaan orang-orang miskin itupun, mereka tidak sudi. Sedangkan aku, sudah beberapa hari terakhir ini aku menyisihkan uang jajanku untuk sekedar memberi kepada anak-anak jalanan yang mondar-mandir di perempatan. Yah, beginilah potret kotaku, kota kecil yang dipenuhi orang-orang kaya nan angkuh dan lebih banyak lagi orang miskin yang melarat.

Kulirik jam tanganku. Waktu masih menunjukkan pukul 06.15 pagi. Aku melirik sana-sini, mencari angkutan umum yang biasanya mangkal di perempatan. Setelah kutemukan satu, aku berjalan memasuki angkutan umum itu. Didalamnya sudah ada 2 orang wanita penjual ikan asin dan cumi yang baunya minta ampun, seorang penjual tahu dan seorang mahasiswi yang sibuk merapikan jilbab dan dandanannya. Setelah melihat aku naik, sang supir angkot menjalankan mobilnya. Angkot tua itu jalan perlahan melewati kios-kios yang masih tutup dan sebuah bangunan memprihatinkan yang ternyata sebuah sekolah dasar.

Supir angkot sesekali mengklaskon anak-anak sekolah yang lewat, menawarkan tumpangan. Seorang anak SD dengan muka coreng-moreng naik ke angkot butut ini. Dia membawa tas sekolah yang compang-camping dan sebuah botol minuman. Disedotnya air dalam botol itu dengan hidung yang tak henti-henti mengeluarkan ingus. Perjalanan menjadi amat lambat. Aku agak menyesal kenapa tidak diantar supir saja. Tetapi aku tidak mau, lebih enak melihat pemandangan kotaku yang sebenarnya -yaitu wajah kemiskinan- dan menghirup udara segar kota yang habis diguyur hujan, kecuali bau ikan asin dan cumi tadi.

Setelah menurunkan penjual ikan asin dan cumi serta penjual tahu di sebuah pasar yang kumuh, angkot tua ini mengantarku ke sebuah sekolah negeri yang cukup mewah, tempat orang-orang kaya menyekolahkan anak mereka. Kubanyar angkot itu dengan 3 ribu rupiah, dan aku masuk ke sekolahku. Kulirik lagi jam tanganku. Pukul 06.45, masih ada 15 menit sebelum bel masuk berbunyi, dan butuh waktu 30 menit ke sekolah dengan angkot butut itu. Sekolahku sudah cukup ramai. Anak-anak kelas 7 terlihat berbincang-bincang di tempat duduk yang terbuat dari semen dan lantai beratapkan pohon yang tak kuketahui namanya.

Aku masuk ke kelasku. Sudah sebagian teman-temanku yang datang. 1-2 orang terlihat menyapu kelas, sedangkan yang lainnya sibuk mengerjakan tugas yang diberikan guru tempo lalu. Diantara orang-orang yang sibuk itu, kulihat Vera, sahabat terbaikku sedang membantu temanku yang lain mengerjakan tugas. Setelah mengetahui keberadaanku dia langsung menyapaku dengan hangat dan penuh keceriaan.

“Nadin! Udah dateng toh, rupanya!”

Aku membalasnya dengan senyuman.

“Eh, gimana? Udah ngerjain tugas fisika, belum?” tanya Vera kepadaku.
“Kalo yang itu mah, aku dah kerjain dari minggu lalu!” kataku sambil sedikit bergurau.
“Yee… Sama dong!”

Kami berduapun melakukan toss, kemudian tertawa. Indah sekali. Bila ada keindahan terbesar yang diberikan TUhan padaku, maka itu adalah seorang sahabat yang setia baik suka maupun duka. Kami sudah bersahabat dari kelas 3 SD. Kami tertawa bersama, bergembira bersama, menagis bersama, bahkan menanggung malu bersama. Pernah waktu kami kelas 6 dulu, waktu ujian nasional, Vera yang telat menggandeng tanganku dan dengan tergesa-gesa menuju ruang ujian. Aku fikir pasti dia telat bangun dan belum mandi, karena waktu itu dia memakai seragam putih-putih, seragam yang kami gunakan dalam upacara 17 Agustus, padahal waktu itu hari Sabtu.

bersambung…

6 thoughts on “Potret Kota Kecil

  1. Hmmm ..
    Kehidupan memang begitu. Sering kali terjadi ketimpangan yang sangat di dalamnya. Yang kaya, kaya sangadh. Yang miskin, miskin sangadh.
    Semoga perenungannya bisa bantu hati untuk memahami makna kebahagiaan.
    Salam …

  2. Salam Takzim
    Kembali disampaikan Apapun tulisanmu dan apapun jenis hurufnya pasti kubaca.
    Jika boleh menyampaikan saran buatlah tulisan menjadi 2 jilid kalau terlalu panjang..
    Tambahan warnailah tulisanmu agar merangsang otak kiri dalam membacanya he!
    Seperti di halaman rumah saya
    Salam Takzim Batavusqu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s