Makna Hari Raya Idul Adha

Standar

Karena hari ini adalah hari raya Idul Adha, saya coba mempostingkan ‘makna dari Hari Raya Idul Adha’ yang saya cari dari berbagai sumber (^_^). Tanpa basa-basi lagi, silahkan membaca postingan saya ini ^o^……

Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Haji adalah sebuah hari raya Islam yang memperingati peristiwa kurban, karena itu dikenal juga dengan Hari Raya Kurban. Peristiwa kurban tersebut adalah ketika Nabi Ibrahim as. bersedia mengorbankan putranya, yaitu Nabi Ismail as. kepada Allah SWT. Ketika hendak disembelih, Allah SWT menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba. Peristiwa itu diabadikan oleh allah SWT di dalam Quran-Nya surat al Shaffat ayat 102-109. Dari peristiwa itulah asal mula dilaksanakannya Hari Raya Kurban, tidak lain untuk memperingati kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Bagaimana tidak? Nabi Ibrahim as. yang sudah lama mengidam-idamkan kelahiran seorang putra, harus menyembelih buah hatinya tersebut demi melaksanakan perintah Allah SWT. Tetapi Allah SWT sudah membalas kepatuhannya tersebut, menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba. Ketakwaan seperti Nabi Ibrahim inilah yang patut kita teladani.

Adapun pesan yang tersirat dari peristiwa tersebut adalah ajaran Islam yang begitu menghargai betapa pentingnya nyawa manusia. Menurut Imam Syatibi dalam magmum opusnya al Muwafaqot, satu diantara nilai universal Islam (maqoshid al syari’ah) adalah agama Islam menjaga hak hidup (hifdzu al nafs).

Di hari Idul Adha, bagi umat islam yang mampu dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban. Pada dasarnya, menyembelih binatang kurban ini mengandung dua nilai, yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat transedental. Sedangkan dikatakan kesalehan sosial, karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhuafa lainnya. Dengan disyari’atkannya kurban, kaum Muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama.

Meski waktu pelaksanaan penyembelihan dibatasi (10-13 Dzulhijah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna esensial dari pesan yang disampaikan teks, bukan memahami teks secara literal. Oleh karenanya, semangat untuk terus ‘berkurban’ senantiasa kita langgengkan pasca Idul Adha. Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan dua kesalehan sekaligus, yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial.

Akhir kata, saya mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Adha” bagi seluruh umat Islam di Indonesia dan di seluruh belahan dunia yang merayakannya. Semoga Allah SWT menerima kurban kita dan mempertemukan kita dengan  rasul-Nya beserta para sahabat dan shalihin di jannah-Nya. Amin…

About these ads

3 pemikiran pada “Makna Hari Raya Idul Adha

  1. riyadi ahmad

    memaknai hari raya idul adaha dengan meningkat kan ketaq waan kita insya alloh kita termasuk orang orng yang d ridhoi alloh swt dengan kembali mengenang kebesaran alloh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s